KAJIAN TASAWUF (O’ Mama’) obrolan Mamak Koswara “Hikmah Kehidupan” 40 kajian

Sudahkah anda membaca Penjelasan / muqodimahnya???…

“ASSALAMU ‘ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKAATUH”

KAJIAN 1
Dalam kehidupan manusia, akan terjadi bermacam2 masalah yang harus diselesaikan atau dipecahkan, adakalanya persoalan itu dapat diselesaikan atau dipecahkan dg wawasan ilmu pengetahuan dan aqal fikir, dan adakalanya persoalan itu ghaib, artinya; sulit dimengerti olah nalar manusia. Maka bagi orang2 beriman menghadapi segala persoalan hidup itu adalah suatu amal perjuangan yang bernilai mulai dan derajat di sisi Allah, dan adapun bagi persoalan2 lahiriyah yg bersifat kepentingan umum,;tentu dpt dimusyawarahkan atau difikirkan dg mencari solusi yg tepat dan manfa’at dan tdk memadaratkan, yaitu; tdk merugikan atau bahkan merusak diri sendiri dan orang lain bahkan lingkungan dan alam, yaitu; dg dasar yg baik dari wawasan pandang hukum dan ketetapan Allah, juga tdk melanggar atau merusak hukum
negara yg sesuai dg syara pd hak-Nya. sep; bersolusi dg cara yg baik dan halal, dan tdk mengambil jalan kezalimiman, memandang suatu masalah atau persoalan dg pandangan rasa kasih sayang, sep; Allah memandang makhluk-Nya dg sifat rohman-Nya. Maka hendaknya ada pemimpin dlm permusyawarahan itu, dan akhir dari semua itu, yaitu; tdk ada yg terzalimi dr suatu keputusan musyawarah dan mufakatnya, dan bila hrs juga ada kerugian atau kerusakan yg tdk bisa dihindarkan, buatlah atau carilah kerugian atau kerusakan yg sekecil mungkin. Dan tawakkal mengiringi permusyawarahan itu, dan hindarkanlah mujaddalah bersikeras atau bersitegang di dalamnya, kemudian jalankanlah segala yg telah diputuskan itu dg kesungguhan hati dlm tekad bersama. Dan adapun bg segala persoalan pribadi; tentu ada yg hrs
dirahasiakan dr orang lain dan ada yg dpt dipecahkan dg bermusyawarah kpd orang yg dpt dipercaya dlm wawasan pandang atas persoalan itu, yaitu; bertanya kpd yg mengerti akan persoalan yg sdng kita hadapi. Dan tentu saja dg dasar yg sama ; yaitu tdk menyimpang dr ketetapan Allah dlm hukumnya, dll sep; trsbt di atas. Sedangkan bagi persoalan2 yg bersifat ghaib, maka buatlah suatu kekuatan iman pd diri dg bnyk bertaqorub kpd Allah dg amalan2
sunnah, dan mohon kepada Allah utk di lepaskan dr masalah keghaiban yg membelenggu diri atau keluarga atau lainnya, dan bertanyalah kpd ahlinya yg benar fahamnya pd hak Allah. karena Allahlah yg menguasai semua keghaiban yg ada. Maka segala yg terjadi dlm kehidupan manusia itu pd keadaannya adalah suatu jalan bagi menempuh hikmah dr rahasia Allah atas hidup dan
kehidupan manusia dan lain keadaannya, dan itulah yg dikatakan bahwa hikmah adalah suatu jalan kebijaksanaan dan keadilan serta berkah bg manusia dan makhluk lainnya agar hidup dan kehidupan dapat berlangsung dg kebaikan, keamanan, dan keberkahan yg banyak dr-Nya. Sehingga baiklah keseluruhan dr tatanan kehidupan manusia dan makhluk lain bahkan alam seluruhnya.

(Qs 2; 269. 3; 159. 42; 38)

KAJIAN 2
Tiap2 yg dijalankan manusia itu pada hakekatnya adalah suatu penempuhan perjuangan atas apa2 yg telah ditetapkan Allah atas hidup dan kehidupannya, dan segala yg baik dan buruk tdk dpt di takar dg ukuran aqal dan fikir manusia, akan tetapi diperlukan pihak lain yg bnr2 tahu akan segala persoalan dan kebutuhan hidup manusia itu sendiri, maka tiadalah itu, melainkan sang pencitalah yg maha tahu dan yg maha ilmu untuk memecahkan sgl persoalan yg terjadi pd manusia seluruhnya. Itulah sebabnya bhw manusia memerlukan hukum Allah dan ketetapan-Nya atas hidup dan kehidupannya, dan Allah menurunkan para rasul-Nya utk dpt mengatur tatanan kehidupan dg hukum dr-Nya yg wajib di lanjutkan oleh umatnya, dan tiap2 rasul diberikannya
hikmah bg menghadapi segala persoalan yg timbul dlm dakwahnya, atau utk memberikan solusi pd hak-Nya atas manusia dan makhluk lainnya, dan tiadalah ini melainkan rahmat-Nya bg manusia itu sendiri. Maka konotasi yg mengatakan bhw hikmah adalah suatu kekuatan ilmu tertentu dr ilmu2 yg terkesan mistikus itu, tentu saja salah persepsinya, dan hal ini karena mereka yg beranggapan sep; itu, tentu saja blm memahami dr makna ayat tentang apa itu hikmah yg sebenarnya. Dan tdklah hikmah itu hanya berkutat pemahaman yg dalam tentang Al-Quran dan sunnah secara ubudiyyah saja, akan tetapi melingkupi segala aspek kehidupan yg ada, sep; termakna bhw al-Qur’an dan sunnah mencakup ruang lingkup kehidupan keseluruhannya.

(Qs 43; 4. 44; 4)

KAJIAN 3
(lanjutan,..) Maka ada bbrpa tanggapn bhwa hikmah berindentik kpd ilmu2 kkuatn yg berkonotasi paranormal (buruk), tnggapn ini keliru, hikmah itu brtaut dg sgla aspek dan aktifitas khidupn manusia, bhkn alam semesta, maka adapun yg dimaksud dg hikmah dr faham tasawuf,; yg sbnrnya adlh: ilmu2 yg bersumber dari barokah, khasiah, ma’unah, karomah bahkan mujizat  dr Al-Qur’an atau zikir dan do’a2 rasul saw,akan ttapi bnyk orang yg mengaku ahli hikmah pdhl ilmunya sama sekali tdk bersumber dr Al-Qur’an dan menyimpang dr hadits, yg pd akhirnya mmbuat image buruk tntng ilmu hikmah (kekuatan ghaib) itu sendiri, maka hikmah (ilmu) (red:kkutn ghaib)),.. hnya salah satu dr “Hikmah”.Percaya kpd yg ghaib itu wajib hukumnya, keghaiban itu bkn hnya Allah, malaikat, syurga atau neraka sj tp jg hal2 yg terjadi dr kehendak Allah pd af’alNya (perbuatanNya) atas keajaiban yg terjadi pd kehidupan manusia (makhluk).

(Qs 2; 3).

KAJIAN 4
“Allah mengampuni siapa yang dikehendakiNya….ketika kita merasa sdh mmahami akan arti khidupan bg diri kita, maka belum tentu kita mengerti apa yg seharusnya kita perbuat (amal), sbb yg jd prtanyaan adlh; bnrkh kita sdh mmahami arti khidpn secra hakikinya?,bbrpa prtnyaan bg diri kita; khidupn macam apa? utk siapa? Apa yg dkerjakn bg khidupn itu?, dlm hidup yg hny sekali ini,brmanfaatkah kita bg ssama? Atau bahkan merugikan? Merusak? Tanpa kita sadari mnghancurkn khidupn orang lain mungkin? Atau alam bahkn?. Inilah dasarnya mngapa Allah menyuruh kita kembali (bertoubat), atas kbodohan kita yg tdk mmahami khidupn kita sendiri.dan dia Maha tahu siapa yg pantas diterima taubatnya dan siap yg ditolakNya,..!!, maka hal ini berkaitan dg rasa bathin pd niat dan i’tiqod di hati atas suatau amal.

(Qs 5;8-11)

KAJIAN 5
Pada pandangan keagungan kita kepada Allah, pd ketika menerima nikmat-Nya, ada rasa syukur yg kita nikmati, maka tiap orang punya jalan bathin sendiri2 utk menikmatinya, yaitu; jalan tawajjuh, (menghadap), sep; jg orang yg bertobat dr dosa2nya, maka jln penyesalan itu menjadi lorong bathin bgnya utk tawajjuh kpd-Nya., bila orang itu terus istiqomah pd jln bathinnya tsb, mmpertahankannya, akan sampailah pd kesucian dan terangkat derajatnya pd sisi-Nya. Inilah yg disebut mujahadah (perjuangan bathin), dan orang2 yg memahami sadar akan hal ini akan Allah jaga dr segala kejahatan.

(Qs 5;11).(Qs 75;1-15).

KAJIAN 6
Dlm setiap langkah seorang mukmin, ada cahaya yg mmbimbing kpd jln Tuhannya, yaitu;Allah menerangi jln hidupnya, mmberikn ketenangan, menguatkn ghiroh (kemauan) pd kebaikan dlm hak-Nya, mmberikan pemahaman pd bathin si hamba, utk dpt mmbedakan anatara kebaikan dan keburukan yg hakiki, bahkan adakalanya si hamba dpt melihat kehidupn dg pandangan khasafnya, maka inilah yg disebut bimbingan Allah bg si hamba, (Rusydun). Maka ucapan “ihdinasyhiroothol mustaqiiim” pd tiap mmbaca Al -fatihah dlm sholat, terarah pd bukan hnya petunjuk sj, tp brmohon bimbingan-Nya.

(Qs 7;29-30).

KAJIAN 7
Tiap kejadian yg menimpa hidup kita, ternyata dua keadaan, yg pertama krn Rahmat Allah dengan segala kasih sayangNya, baik berupa kesenangan atau penderitaan,kemudahan atau kesulitan,sehat atau sakit,semua ini diaturNya sbgi pembinaan iman kita kpdNya. Dg semua ini Dia mnghendaki kebaikan dan derajat bg kita disisiNya. Adapun yg kedua, semua yg terjadi itu; adlah krn usaha dan amal sholeh kita, atau kesalahan dan dosa yg diperbuat kita sendiri. Maka utk hal yg buruk/tercela,Dia menunggu kita utk mmbenahi diri, lahir dan bathin, (bertaubat). Bila kita mengadakan perubahan, maka Dia merubahnya, bila tdk, maka Dia akan menambah siksaNya. Naudzubillah.‘’’’’

(Qs 19:56-65)

KAJIAN 8
Terjadinya suatu perbuatan/amal jahir, adalh krn tergeraknya hati atau kemauan/kehendak, bila lintasan hati dlm lintas fikiran baik, maka baiklah perbuatan itu, bila buruk, maka buruklah perbuatan itu, dan perbuatan/amal dpt dijabarkan dg brbagai keadaan, yaitu; 1.Melihat,sep;membaca,menonton/menyaksikan pertunjukan, dll (Yg baik atau yg buruk/kesolehan atau kemaksiyatan).2.Mendengar, sep;mendengar musik,mndngr cerita,mendengar suara/berita, dll.(Yg baik atau yg buruk/kesolehan atau kemaksiyatan).3.Mengucap/ucapan;sep; berbicara,atau ungkapan dg simbol dr suatu pebicaraan itu, yaitu menulis.dll .(Yg baik atau yg buruk/kesolehan atau kemaksiyatan).4.Memeperbuat,sep; memegang,meraba, mengambil,memukul menendang, berjalan, sholat,berpuasa, berhaji, meludah,mencium.dll.(Yg baik atau yg buruk/kesolehan atau kemaksiyatan).mereka yg bramal baik ada janji Allah;. Dan manusia akan menjadi saksi bg dirinya sendiri, Allah Maha Tahu apa yg terlintas didada.

(Qs 5;9).(Qs 100;6-10).

KAJIAN 9
Ketika seorang hamba mengalami kesulitan dlm hidupnya, ia akan mencari orang yg dpt mmbantunya atau menolongnya sekaligus, bila tdk ditemukannya pd satu orang yg dituju, maka ia akan lari kpd orang yg lain, dan seterusnya,..tp bila semuanya buntu, maka ia akan lari kepada Allah memohon dilepaskannya dr kesulitan tsb, Maka seskali Allah tdk akan menyambutnya,..kenapa? karna si hamba mendahulukan manusia lainnya dan Allah dibelakangkan, kalaupun ditolongNya, maka pertolongan itu hnyalah siksaan yg ditunda,.(tiadalah bermanfaat ikhtiar meraka) sbb hati tersesat tdk menghadap pd Allah.

(Qs 14;18-20).

KAJIAN 10
Pada awal langkah menempuh suatu keputusan,biasanya terjadi suatu kebimbangan hati krn rasa takut gagal dr apa yg telah di putuskan atau bimbang akan masa depan dr keputusannya itu. Hal ini biasa terjadi bg umumnya, akan ttapi,..bila kemauan yg kuat dr keputusan itu bnr2 diyakini, lalu di jalankan dengan kesungguhan, maka pd suatu saat terjadilah ketentraman dan kenyamanan di hati, itulah tanda awal keberhasilan dan keputusan itu akan terwujud kebenarannya, tp bila terjadi sebaliknya,..yaitu; tdk pernah menemukan ketentraman dan malah bertambah2 kekacawan dihati,..itulah tanda keputusan yg salah,. Maka setiap orang yg beriman sangat diharapkan utk melakukan istikhoroh memohon petunjuk Allah dlm mengambil keputusan pd segala langkah hidupnya. Hadits Rasul SAW; tg artinya; “Tidak akan salah orang yg istikhoroh, dan tdk akan menyesal orang yg musyawaroh”.

(Qs 55;1-13)

KAJIAN 11
Pada keadaannya tiap diri manusia mmpunyai kepribadian yg brbeda2.Sep:Penyantun, pengasih(pecinta), pemarah, pendiam, penakut, pemberani, mental yg kuat/lemah dll, maka semua itu akan terdidik oleh agama dg kesungguhannya, semua keadaan kepribadian itu, bila tdk terarah kpd jln agama,akan menjadi bumerang yg dpt menghambat, merusak, bahkan menghancurkan kehidupan pribadinya, dan bila tersalurkan dg pemahaman agama yg benar, semua itu akan menjadi kekuatan/bahkan penggerak perjuangan amal sholeh agamanya, dan kehidupannya. Sep;orang yg ‘penyantun; akan tersalur pemberiannya itu pd hak jln agama.;orang yg ‘pengasih (pecinta)’, akan mencintai orang2 yg lemah, dan umat bhkn semua manusia dg cinta kasihnya.;orang yg ‘pendiam’,maka keindahan diam akan bermanfaat utk tdk brbicara hal2 yg tiada brmanfaat.;’pemarah’, dia akan marah bila hak Allah pd agamanya dirusak,dihina, dizalimi, tntu dg marah yg terarah krn faham akan jenjang jln agama (Islam).Semua itu adalah nilai2 yg indah pd sisi Allah; Hadist Nabi,yg artinya;“Barang siapa yg mmberi karna Allah, mencintai krn Allah, marah krn Allah, maka itu adlh tanda kesempurnaan iman”.

(Qs 22;76. 15;9. 41; 11-25).

KAJIAN 12
Betapa hebatnya hati orang2 mukmin itu, ketika terjadi musibah, kesulitan,penderitaan,..ia bersabar, ketika ia mendapat karunia, kesenangan, keberuntungan, ia bersyukur, tapi,..ada yg lbh hebat lg,..yaitu; hati orang2 yg bila mendapatkan musibah, kesulitan tekanan dlm hidupnya,..ia malah bersyukur,..krn melihat dan sadar akan adanya musibah dan penderitaan yg jauuh lbh besar dr yg dialami sekarang, maka karunia terbesar bagi kehidupan adalah; diberikannya panjang umur dan kesehatannya, sdangkan karunia terbesar atas penciptaannya adalah; diberikannya Iman dan Islam dg taufiq hidayah dr Nya. (Allah SWT). Alhamdulillah.

(Qs 55 ;1-30).

KAJIAN 13
Setiap orang berjalan/menempuh kehidupan pd alur hati dan fikirannya masing2, itulah betapa pentingnya manusia diberikan didikan sejak dini (sejak anak2), sbb mereka akan berubah dan mmpunyai gaya hidup dlm prinsip2nya dg apa2 yg diterimanya sejak kecil, maka pentingnya agama (Islam) menyentuh nurani anak dan mmbukakan fikirannya dg kenyataan sep; Allah sbgi Tuhan, hnya satu (Esa) tiada yg lain, Rosul/manusia yg diutusNya diakhir zaman (penghataman sgla nabi dan penghulanya adlh; Muhammad saw) dan mengakui menerima nabi2 yg lain terdahulu, dan tidak mmbeda2kannya, AlQur’an adlh Kitab yg hrs di Imani dan sbg Imam (diamalkan), dan mengakui adanya kitab2 terdahulu dr nabi2 yg terdahulu.Tdk mmbeda2kan para sahabat nabi dan brbaik sangka kpd mereka semua, walaupun terjadi perselisihan/beda pendapat pd zaman mereka. Mencintai Allah, mencintai, Rasul, mencintai Agama dan umatnya, memuliakan ulama, berbakti pd orang tua, semangat belajar, semangat bekerja, berkeluarga dg yg baik2 dan wawasan pandang yg baik, menanamkan kejujuran, akhlak yg baik dan mulia.. Juga di bukakan fikiran dan hatinya pd hal2 sep; tdk menyukai kezaliman, dan kekufuran dan kemunafikan,mmbenci penghianatan, tdk suka bermalas2an, tdk sombong/rendah hati, jg,.mengingatkan kematian yg di dlmnya hrs mmpertanggungjwbkan hidup dan kehidupan yg sdh dijalani.dll sifat yg nntinya akan menjadi diri/kepribadian dlm menempuh kehidupannya. Jd apapun anak itu nntinya, ia sdh mengerti, tertanam pd hati yg dalam dan alur fikir yg lurus. Nah ingin anak sholeh/sholehah dan bermanfaat????,…

(Qs 64; 9-18. 66;6).

KAJIAN 14
Setiap orang punya hak dan kewajiban yg sama kpd Allah dan atas apa2 yg berkaitan, dan kpd manusia lainnya, maka ketenangan hidup manusia itu pd hakekatnya adalah hubungan yang indah antara ia dan Tuhannya, dan hubungan yg indah antaranya dg sesama (habuluminallah wa habluminannaas), jd pd hakekatnya, hidup adalah membentuk dan menjalin hubungan yg mesra dan mempertahankannya selamanya.

(Qs 17;23-41).

KAJIAN 15
Pada sudut pandang tertentu kita akan melihat yg baik itu mmng bnr baik, tp adakalanya, kita akan terkecoh, justru yg terlihat baik adkalanya buruk dan salah, maka mewaspadai pandangan dari rasa pemahaman akan maslh yg dihadapi itu sangat penting utk dpt kita menilai kebenarannya, bila perlu,. Sngat di sarankan memohon petunjuk Allah dg sholat istikhorah.Krn Dialah yg maha mengetahui sgl rahasia atas semua ciptaaNya.

(Qs 20;7-8).

KAJIAN 16
Adakalanya kita melihat dg rasa, kehidupan/keadaan kita sedang indah dan bahagia, tp adakalnya kita merasa jenuh, atau takut menghadapi masa akan dtng, jg seakan tdk menerima kenyataan. Hal ini biasa dan tdk perlu cemas, krn gejolak hati pd tiap sa’at akan berubah2. asalkan hal itu tdk terus menerus terjadi, sbb adakalanya Allah mengampuni dosa kita dg cara membuat derita dihati, krn ada dosa yg tdk bisa terhapus hnya dg penderitaan pd badan atau musibah sj, tp bila hal itu terjadi terus dlm wkt panjang, maka itu adalh godaan syetan, yg ingin merusak jiwa, nah waspadalah,…

(Qs 66;8. 36;60).

KAJIAN 17
tarlalu bnyk pertsoalan dlm hidup ini, jngn lg kita tambah2kan dg gelapnya hati yg tdk mau mrnerima nasehat, dan fikiran yg kotor penuh dg nafsu shawat dan angan2 kosong, sehingga
tidak jernih lg kita memandang sgla persoalan hidup, emosional memuncak yg dituruti malah menambah persoalan dan maslah baru,lbh baik pandanglah diri kita dg kelembutan kasih sayang, agar kita lbh mengasihi diri sbg amanah dr Allah, jngan bebankan diri dg yg sekira2 kita tdk mampu menanganinya, maka berjuang utk merubah sgl yg kita hadapi adalh suatu nilai yg besar di sisi Allah.kita jadikan setiap langkah hidup ini sbg perubahan yg nyata utk lbh baik dan lbh baik lg, bertekad utk jd orang baik dan bermanfaat bg sesama. SEp; yg Allah gambarkan dlm kegelapan hati orang2 yg dijadikan musuhNya.

(Qs 5;82-88).

KAJIAN 18
Bila kita mau merenungi perjalanan hidup, tentu sdh sngt jauh langkah yg kita jalankan, sdh bnyk dimensi waktu yg kita lewati, sdh terjadi berbagai peristiwa yg kita hadapi,sdh sangat bnyak pertolongan Allah yg kita terima tanpa terasa maupun kita rasa, bahkan ada yg terlihat jelas.Tp hikmah apa yg kita dptkan dr semuanya itu?, sdhkah kita bersyukur atas semua itu?, atau sdhkah kita dapatkan kepastian langkah kelanjutannya?, selayaknya sudah,..harus terpatri dihati ini…, “kita terima semua kepahitan sebagai pelajaran drNya, dan kita terima semua yg manis sbgai perhatianNya,..” “Semua adalah Kasih sayangNya,..” lalu dimana dan kapan pengabdian kita pdNya, bhw kita sdh terima semuanya itu?, di sinilah di kehidupan ini, dan sekaranglah sepanjang nyawa di badan ini.SEp; gambaran kemaha kuasaan Allah pd ahlul khafi.

(18;9-26).

KAJIAN 19
“Pada kepasrahan ku, ku lihat cahaya terang-Nya, keindahan-Nya menyejukan hatiku,..” yaa,..Pd kepasrahan itulah terjadi kekosongan hati dr sgl perkara kehidupan, maka disanalah kita akan melihat dg rasa bhw “Dia” sdh menyiapkan pertolonganNya, suatu kepasrahan yg teriring dg sgl ikhtiar yg kuat, itulah hakekatnya tekad hati (azzam) dlm ketawakkalan. Maka ketawakkalan itu, akan mendatangkan pertolongan-Nya dr semua kesulitan dan mslah dlm hidup.  okhh Robb,.. alangkah mudahnya jalan pertolongan Mu bg mereka yg engkau beri petunjuk, masukanlah aku pd golongan mereka yg mudah dlm mendapatkan pertolongan Mu? aamiin.

(Qs 15; 19-25).

KAJIAN 20
Meremehkan apa yg kita dpt dan kita hasilkan dr apa yg kita usahakan Dlm aktivitas kehidupan, pd hakekatnya adalah penghinaan pada diri sendiri, dan itu akan membuat hati gelisah, melemahkan jiwa, mematikan semangat, menjadikan buruk pembicaraan, menimbulkan angan2 kosong dan berbagai hayalan,semua itu krn menghilangkan nilai jerih paya pd diri sendiri, bahkan menjauhkan Rahmat Allah dan jg melepaskan baju taqwa, dan jauh dr rasa syukur kpdNya. Padahal Allah sangat menghargai dg nilai pahala atas apa2 yang diusahakan oleh manusia selama itu semua diniatkan krn Allah dlm amanah hidup.

(Qs 2; 63-66).

KAJIAN 21
Perumpamaan orang yg mmberi sedekah banyak dan sedikit dlm pandangan jahir perhitungan manusia, sangatlah jauh berbeda, akan tetapi akan jauh lbh berbeda, bila terpandang oleh Allah, siapakah diantara mereka yg jelas terarah kepada-Nya?, sbb perhitungan banyak dan sedikit itu berbeda antara keduanya dlm hakikinya, yaitu; apa yg terlihat “banyak” blm tentu terlihat “banyak” pd pandangan Allah, dan yg terlihat “sedikit”, blm tentu “sedikit” dlm pandanganNya.Krn Dia lah yg mmperhitungkan semua dg Maha ilmuNya. Maka ini adlh rahmatNya agar si hamba tdk berkecil hati melihat kecilnya jumlah kemampuan yg akan disedekahkan dr rizki yg tlh Allah karuniakan, dan tdk menjadi takabbur bg hamba yg mampu bersedekah dg jmlah yg bnyak.

(Qs 10;25-30).

KAJIAN 22
Pd cinta yg tulus, ada rasa bathin yg mendalam, yaitu; suatu getar persambungan rasa diantara mereka yg saling mencintai dlm sgl halnya, tanpa rasa ganjalan dan waswas dihati, bahkan tiada keraguan yg terselubung (saling percaya), dan sangat jauh dr gejolak hawa nafsu syahwat yg ikut mmposisikan diri pd hal2 yg blm hak dlm kesadaran kasih sayang dan keimanan. Bahkan ketulusan rasa cinta itu menjadikan mereka saling menguatkan dan bkn melemahkan dan jg saling menjaga satu sama lain. Bila terjadi rasa ini pd cintamu, maka berbahagialah.
sesungguhnya Allah itu sangat mencintai hamba2nya yg shaleh/shalehah, dan Dia akan sangat cemburu bila sihamba berhianat dg berbuat dosa dan kezaliman, maka cintailah Allah, lalu pantulkan cinta itu kpd siapa yg kita cintai, itulah ketulusan dlm mencintai kekasih. Dan para pecinta yg tdk sadar bhw cintanya itu adalah karunia dr-Nya, akan selalu didominir hawa nafsu shahwatnya dan cintanya adlh maksiat dosa dan kezaliman, bhkn seakan kekasihmu itu seperti malaikat yg dihayalkan dlm suatu pengagungan, dan jg hal ini dpt masuk kpd syirik menuhankan manusia. “Barangsiapa yg mencintai sseorang bkn krn pantulan cintanya kpd Allah, maka pd hakekatnya ia tlh brbuat suatu kemusyrikan yg tdk disadarinya, sbb tiadalah pantas bg “hamba2″ Allah mencintai siapapun selain Dia,” sep gambaran dlm alQur’an.

(Qs 43; 16-20. 45; 23).

KAJIAN 23
Semua keadaan manusia akan baik, bila dimulai dr niat dan i’tiqod yg baik, maka; akan melahirkan rencana hidup yg baik, kehidupan yg baik, hasil usaha yg baik, mendapatkan sahabat atau teman2 yg baik, pergaulan yg baik, jodoh yg baik, keturunan yg baik, dll. Akan tetapi semua itu tentu hrs dg ikhtir/perjuangan pd cara2 yg baik pula, sbb, adakalanya niat yg baik akan terlihat/terjahir tdk baik oleh orang lain, bila kita “salah” menerapkan cara2/ikhtiar yg diperjuangkan dlm meraih sgl kebaikan itu, tentu saja dpt menimbulkan salah faham, fitnah, bhkn permusuhan. Senantiasa Allah mengiringi dan menjaga kebaikan yg di perbuat hambanya, selama niat dan i’tiqod si hamba tdk berubah/tdk rusak dan istiqomah dlm kebaikan itu.

(Qs 45;17-26).

KAJIAN 24
Dalam ketetapan dan hukum Allah, semua manusia mendapatkan hak dan kewajiban yg sama, yaitu; telah di beritakanNya tentang hak zatNya sbg Tuhan semesta alam, dan mmberitakan apa2 yg hrs diketahui dr segala ketetapan dan hukumNya itu melalui para RasulNya. Dan semua itu telah jelas berkaitan, bhw; penciptaan jin dan manusia utk beribadah dlm pengabdian pd kehidupan yg tlh digariskanNya. Maka kembali kpd manusia itu sendiri, menerima? atau menolak? atas itu semua. Bila menerima?!; berarti Beriman dan mendapatkan apa2 yg dijanjikanNya (syurga), bila menolak?!, berarti mendapatkan apa2 yg diancamkanNya (neraka). “Allahummagfir lanaa waliwaalidaynaa,..” “wa ashli lii fii dzurriyyatii inni tubtu ilaika wa inni minal muslimiin”,..Jadikanlah kami sbg orang2 yg menerima dg ridho.

(25; 22-34).

KAJIAN 25
Allah memang tdk mmebebankan apa2 yg kita tdk sanggup menanggungnya, pengertian ini bknlah tanpa usaha dahulu,lantas sdh menyatakan tdk sanggup. Akan tetapi pernyataan tdk sanggup itu bnr2 hrs dg suatu perkiraan dr kemampuan diri dan keadaan atau keilmuan, bhw; mmng kita bnr2 tdk dpt/tdk sanggup melaksanakan ssuatu itu. Artinya bhw; pemahaman ini jngn dijadikan alasan utk melemahkan diri dan bermalas2an. Nah kerjakanlah dr sgla aktivitas hidup kita dlm niat pengabdian kpdNya pd batas kesanggupan yg maksimal, sbb; suatu usaha dan amal atau pekerjaan akan dinilaiNya justru dr “kuatnya kemauan dan beban yg ditanggung”. Maka tatap saja tiada yg dpt melarikan diri dari apa2 yg menjadi tanggung jwbnya atas apa yg tlh diusahakan dlm hidupnya, baik bersabar maupun mengeluh.

(Qs 14;21. 14;24-27).

KAJIAN 26
BERKAITAN DG KAJIAN 25; Demikian jg sgl rukhshoh (keringanan) yg Allah berikan dlm peribadatan, hendaknya kita terima dg pengagungan kpd-Nya sbg rahmatNya. sehingga kita tdk memaksakan diri utk melaksanakan ibadah2 sunnah yg bnyk yg kita rasa tdk mampu, apalagi  timbul rasa jenuh/bosan, tetapi mulailah dg sedikit2 yg sekira kita mampu, asalkan istiqomah (terus menerus), sbb syetan adakalanya menggoda/mengganggu kita utk menjerumuskan kpd kemunafikan/membengkokan jalan kpd Allah dlm ibadah, yaitu;agar terjadi kejenuhan dan keluhan hati dlm menanggung berat beban ibadah itu, sehingga hilang keikhlasan dan akhirnya kita meninggalkan semua peribadatan kita. sseungguhnya amal yg sedikit dg istiqomah pd keikhlasan itu, lbh mulia sbg sebaik2nya amal, ketimbang amal yg bnyk dan hati mengeluh merasa terbeban.

(Qs 7; 86. 15;39-41).

KAJIAN 27
ssungguhnya kekuatan rasa dlm cinta kpd Allah itu hanya dpt dirasakan oleh diri sendiri, sbb; blm tentu sseorang yg terlihat kuat beribadat itu bnr2 cinta kpd-Nya, sebagaimana sseorang mencintai kekasihnya, maka ia akan berkorban demi kebaikan dan hubungan mesra dg kekasihnya itu. Dan cinta itu menjadikannya suatu rasa seakan bersatu dlm pautan sngat butuhnya dan sngt takut kehilangan, atau sngt menderita di hati, bila terjadi ketidak harmonisan,sehingga hrs sngt kuat menjaganya. Maka cinta kpd Allah itu melebihi sgla keadaan yg ada, dr sekedar cinta manusia kpd kekasihnya. Perhatikanlah; betapa beratnya beban yg tertanggung dlm mencintai Allah, sdngkan beban mencintai kekasih sj sngt berat. dan ketahuilah; semakin beratnya beban yg tertanggung bg cinta, akan menimbulkan kasih sayang dan kemesraan yg sangat dan kenikmatan yg kuat bg jiwa, bahkan menentramkan ruh sifat kemanusiaan (ruhul insaniyyah). Maka para pecinta sejati tdk akan berpaling rasa utk condong hatinya kpd siapapun krn memahami sang pencipta, inilah hakekat perjuangan cinta yg utama, yaitu; cintanya terarah kpd Allah dlm mencintai kekasihnya (yg lain).

(Qs 66; 1-6. 29; 61).

KAJIAN 28.
bERKAITAN DG KAJIAN 27; Maka suatu pernikahan yg dilaksanakan dg cinta yg kuat dlm kesadaran krn terarah kpd Allah, akan menjadikan ketentraman jiwa dan ruh, dan jinak/lembut alam rasa sukma dan karsa, sehingga menimbulkan semangat juang bg apa2 yg diperjuangannya dlm rmh tangganya,dan akan timbul persambungan cinta kpd kekasihnya itu, kepada cinta khalik (Allah). yaitu; bertambah2 cintanya kpd Allah, yg pd akhirnya cinta pd kekasihnya itu, bagaikan suatu “pandangan wasilah” rasa cinta kpd Allah. (wasilah; perantara). kemudian terjadi keadaan yg berbalikan, yaitu; ditinggalkanlah cinta kpd kekasihnya itu utk penuh mencintai Allah, maka bila telah puas dan faham akan cinta kpd Allah, ia akan kembali melihat cintanya pd kekasihnya, dan mencintai kekasihnya itu dg penuh pandangan kasih dan sayang dr nuansa Allah pd ahwal bathinnya. Maka inilah yg disebut “pantulan rasa cinta kpd Allah” yg mmbias kpd kekasihnya atau bahkan manusia dan makhluk semuanya. suatu tamsil; bhw, keadaan ini adlh krn hati si hamba kosong dr rsa cinta kpd yg lain, maka hnya Allah lah sbg penghuni hatinya, dan siapapun yg datang utk masuk ke dlm hati si hamba, maka itu adalah tamu, dan setiap tamu hrs mengikuti aturan yg mpunya rmh (Qs 15; 66-70). Dan bg si hamba yg nuansa cintanya tdk pd keadaan ini, maka cintanya telah tersesat.

(Qs 15; 70-72).

KAJIAN 29
Manusia senantiasa berkeluh kesah,keadaan ini adlh fitrah penciptaannya, berbeda dg penciptaan malalikat, yg tdk pernah terjadi hal itu. suatu penciptaan sbg karuniaNya, akan ttpi dpt menjatuhkan manusia pd kehinaan dihadapan Allah bahkan dhdpan manusia lainnya,atau sebaliknya, dpt mengangkat derajat disisiNya dan pd pandangan manusia lain bahkan makhluk seluruhnya. Yaitu; bila keluh kesah itu terjadi krn tdk menerima ketetapanNya (qodho) atas kehidupannya, atau hukumnya (sYareat agama). Hal ini terjadi pd rasa bathin yg tanpa terasa, bahkan adakalanya dlm kesadarannya, yaitu; berkeluh kesah yg terarah pd pemberontakan hati, bahkan adakalanya menyalahkan Allah atas apa2 yg terjadi pd hidup dan kehidupannya. Maka keadaan bathin (hati) yg seperti ini sangat buruk dan tergolong pd dosa besar, krn bersifat su-udzon (buruk sangka) kpd Allah. Dlm hak syareat; terjadinya su-udzon kpd orang lain sj, sudah merupakan suatu dosa yg tertuntut hrs meminta maaf, lalu bgaimana dg su-udzon kpd Allah?. Akan ttapi bila keluh kesah itu sbg suatu rintihan diri (dlm kelemahan dan kekurangannya), sep;diantaranya; keluh kesah atas penyesalan dr kesalahan dan dosa, atau keluh kesah merasa prihatin atas keadaan umat muslim,atau orang lainnya, sehingga terlantun suatu do’a kpd Allah bg diri atau bg umat atau lainnya, utk berbenah dlm taubat atau lainnya. Maka hal ini akan mendatangkan rahmat Allah dan mengangkat derajatnya.

(Qs 33; 9-12).

KAJIAN 30
BERKAITAN DENGAN KAJIAN 29; Maka tiap-tiap diri hendaknya mewaspadai segala lintasan bathin pd apa yg terjadi dr pembicaraan hati, atau nuansa fikiran pd wawasan pandangnya, atas setiap hal hidup dan kehidupannya. Yaitu; menguatkan tekad hati dg menepis (menolak) sgl prasangka buruk (su-udzon), baik kpd manusia lainnya atau makhluk keseluruhannya, bahkan kpd Allah, maka hal ini adlh suatu jln mujahadah (perjuangan bathin), bg mereka yg ingin mensucikan diri dan menghendaki derajat disisi-Nya. Bersunyi hati dr sgl pembicaraan dan lintasan fikiran yg tiada bermanfaat adlh suatu amal dlm nilai (pahala) yg besar drNya, dan menepisnya dr sgl yg buruk adalah ternilai jihad. sbb; segala kerusakan yg terjadi dr hidup dan kehidupan manusia, dan tatanan kehidupan alam ini, krn diawali dg sgl keadaan hati dan lintasan fikiran pd alur pandang yg buruk dr berbagai prasangkanya. sbgmana dlm Al-Qur’an digambarkan, bhwa; rusaknya segala kehidupan lautan dan daratan, adlh krn ulah tangan manusia. dan ulah manusia itu adlh akibat nuansa pandang dr fikirannya. “Ya Allah kuatkan lah hati ini utk lurus pd-Mu dan slalu berbaik sangka (husnudzon) atas apa2 yg menjadi ketetapanMu dlm hidup kami, dan perbaikilah hubungan kami pd sesama dg selalu husnudzon pd mereka dan semua makhlukMu.” “AAAmiiiin”.

(Qs 40; 55-68).

KAJIAN 31
Kelompok manusia difahami dr ahwal bathin ketasawufan atas ketetapan dan hukum Allah pd kehendakNya, dlm keadaannya, empat golongan; Yg pertama, orang2 beriman (Mukminun). Yg kedua, orang2 yg menolak atau menutup hati (kafiruun). Yg ketiga orang2 zalimun (muslimun dan kafirun). Yg keempat orang2 yg menipu (munafiqun). Adapun bg “mukmin” adlh mereka yg lurus keimanannya dan kuat menetap istiqomah lahir dan bathinnya pd hukum ketetapan Allah. Mereka adlh orang2 yg diterima. Adapun bg “kafirun”, mereka adalh orang2 yg tdk percaya krn menutup diri dr yg hak pd fitrah kemanusiaannya, yg pd hakekatnya pd penciptaan manusia tlh tertulis perjanjian akan pengakuan Allah sbg Tuhan, dan insting/rasa pd ketuhanan yg maha esa tlh ada pd tiap2 diri manusia (Qs 7; 172). inilah yg disebut manusia yg tertolak atau yg ditolak Allah di dunia dan di akherat kelak. Dan adapun “zalimun”/zalim, adalah mereka itu para pendosa, perusak, penganiyaya, perampas, penipu, ahli maksiyat, berpenyakit hati dg; iri, dengki, su’udzon (yg dpt menimbulkan nifaq pd hati bila su’udzon itu terarah kpd Allah) dll, pengumbar syahwat, pecinta dunia, pecinta harta, pecinta wanita/pria tanpa arah yg hak kpd Allah, pengadu domba. dll. Dan mereka itu jg orang2 yg Meninggalkan sholat dan meninggal kan puasa serta kewajiban sbg muslim lainnya, (hal ini dpt terjerumus kpd munafiqun atau kafirun). Dan adapun “munafiqun”, mereka adlh orang2 yg menipu Allah dan menipu dirinya sendiri, pd hakekatnya tiadalah mereka menipu Allah, akan tetapi mereka menipu dirinya sendiri dg berpura2 beriman/muslim utk mendapatkan apa2 yg dicitanya/yg dituju atau krn utk mendapatkan keamanan dll. sep; contoh; laki2 non muslim mengislamkan dirinya dihadapan saksi hanya krn ingin menikahi seorang wanita muslimah, atau bersiasat utk mengkafirkan si wanita, dg berpura2 menjadi muslim, maka ini adlh orang2 munafiq yg sesungguhnya. dan ada pula orang2 yg masuk kedalam “golongan” munafiqun, yaitu; terlihat tanda2nya yg digambarkan rasul saw,: bila berbicara berdusta, bila berjanji mengingkari, bila dipercaya berhianat. Sehingga bila ada sseorang terdapat tanda munafiq dr salah satunya, tergolonglah ia sbg orang munafiq, dan bila semua tanda itu ada pdnya, maka ia bnr2 munafiq.

(Qs 50; 16-29).

KAJIAN 32
Pd ahwal batihin yg terjahir dikehidupannya, ada orang2 yg apabila Allah memberikan apa2 yg disenanginya/dikehendakinya, maka ia seakan2 sbg orang yg bersungguh2 pd jalan Allah,memuji2 Allah dlm kesendiriannya atau dihadapan manusia dan lainnya. Akan ttpi stlh Allah mengambil kembali semua yg diberikannya,lantas sj ia mengeluh, kemudian, berburuk sangka (su’udzon) kpd-Nya, bahkan kemuadian mencaci/mmperolok2 Allah dg berbagai pembicaraan dan sikap hidupnya. Dan apabila diberikannya lg semua yg disenanginya/dikehendakinya itu, maka ia akan kembali memuji Allah, dan ia tdk pernah bertaubat dr buruk sangka serta cacian yg pernah dilontarkannya kpd Allah dr masa lalaunya itu, dan bila diambil kembali semuanya itu, ia pun kembali kpd keburukan hatinya itu dlm su’udzon dan caci makian. Maka orang sep; ini adalah orang2 yg menuhankan hawa nafsunya sj, dan mereka itu adalh tergolong orang2 yg menentang dan bermain2 dlm hak Allah sbg Tuhan, tiada sedikitpun bg mereka itu suatu rasa Takut akan anacaman dr siksa-Nya. dan tiadalah bg mereka, melainkan Allah akan menjauhkannya dr rahmat karunia-Nya selama-lamanya, dan Allah akan menyerahkan semua urusan hidupnya kpd dirinya sendiri tanpa pertolongan-Nya sama sekali, dan bg mereka adalah seburuk2 tempat kembali di akhert kelak, sbb mereka adalah golongan yg mmperolok-olok atau penentang hak ketuhanan-Nya. Yaitu; sbg orang2 yg tidak menerima kodho dan kadar yg tlh ditetapkan-Nya. Walaupun mereka beribadat? ya walaupun “terlihat” beribadat 1000 th lamanya.

(Qs 6; 58. 31; 6-7).

KAJIAN 33
Dlm fitrah penciptaan manusia, Allah tlh menentukan dlm ketetapanNya garis hidup manusia, dan pd hakekatnya semua urusan tlh diselesaikanNya bagi anak adam. Akan tatapi semua keadaan itu sangat berkaitan erat dg ikhtiar manusia itu sendiri, yaitu; krn Allah menuliskan qodho dlm ketetapan takdirNya pd manusia dlm dua keadaan, yg pertama; disebut ketetapan/qhodo mughrom, dan yg kedua; disebut qodho muallaq, adapun muallaq; suatu ketetapanNya yg pasti terjadinya, sep; adanya kematian, kiamat, dll. dan adapun mughrom, adalah ketetapanNya yg dpt berubah dr suatu keadaan kpd keadaan lain yg mrnjadi lbh baik atau sebaliknya menjadi lbh buruk. maka pd qodho mughrom inilah manusia akan melihat hasil segala yg ditanamnya dr segala amal perbuatannya, yaitu; Allah menilai amal atau ikhtiar manusia dr suatu usaha atas kehidupannya dan menentukannya. Akan tetapi ada hal yg tidak bisa ditolak manusia/makhluk, yaitu; bhw Dia mempunyai sifat kemuthlaqan jaizNya yg menentukan sgalanya dr kehendakNya. Maka bila sseorang di dlm qodhoNya ditetapkan sbg orang yg sengsara hidupnya, ttpi kemudian kuat dlm usahanya dg berbagai ikhtiar dan do’anya. Maka Allah dpt merubahnya bila Dia menghendakiNya, sep; yg tergambar pd hadits rasul saw : “Laa yaruddul kodhoo illa duaa’u” yg artinya: “Tidak ada yg dpt merubah ketetapan Allah kecuali Du’a”. Jadi pd hakekatnya benarlah usaha manusia sbg jalan yg dpt ditempuhnya, akan tetapi Dia lah yg menentukan sglnya krn Dia lah Tuhan yg tidak satupun makhluk dpt menolak atas apa2 yg telah di tetapkanNya dlm ukuran waktunya dr kehendak-Nya. “Al insaanu bittakhyiir Wallohu bitaqdiir” Manusia iktiar dan Allah penentunya, Laahaula wala quwwata illa billah”. Semua ini berkaitan dg hikmah yg baik dr-Nya bg kehidupan akherat atas hamba2Nya, dan akan berakibat buruk bagi mereka yg menemouh jln kezaliman bg dirinya. Maka dg ini segala kebaikan dan kejahatan menetap pd diri manusia itu sendiri. Dan tidaklah Allah menzalimi hamba2nya, melainkan manusia itulah yg zalim kpd dirinya sendiri. Sehingga diakherat kelak tdk ada satupun manusia/makhluk yg dpt menyalahkan Allah atas taqdir yg terjadi pd dirinya, melainkan berpulang kpd dirinya sendiri, maka dosa yg tertanggung adalah krn suatu usaha/amal/perbuatan diri sendiri, bkn Allah yg menentukannya.

(Qs 16; 60-61. 85;7-8)

KAJIAN 34
Dalam kehidupan sehari2, adakalanya terjadi kesalahfahaman, yg menimbulkan masalah bahkan pertikaian, hal ini akan terjadi bila ada salah satu diantara mereka memunculkan suatu nuansa/keadaan yg tdk menyenangkan, atau rusaknya hati diantara mereka dg berbagai rasa bathin, sep; iri, dengki, merasa tersaingi, tersinggung yg dituruti dg gejolak emosional dlsb, maka suatu rasa bathin yg harus ada dlm pergaulan sehari2 adalah mengusahakan utk bertenggang rasa, yaitu; suatau rasa yg disebut “tadhorru” (rendah hati), yaitu;; tidak sombong, tdk merasa benar sendiri, menghargai orang lain, dll sifat yg terpuji dlm bergaul. Sehingga diharapkan dg ini menjadi suatu jalan bg kita utk meluruskan bathin kpd Allah dg suatu rasa yg disebut; “tawaddhu” (merendahkan diri), Yaitu suatu nuansa mengagungkan Allah, dg jalan berendah hati kepada manusia melihat kuasanya dlm ciptaannya (manusia). Maka segala keadaan ini diharapkan menjadi hubungan yg indah dan berkesinambungan, antara kita dg Allah dan kita dg sesama (manusia lainnya).

(Qs 6; 42-43.  15; 88. 26; 215).

KAJIAN 35
Seorang penghamba Tuhan, sangatlah jauh berbeda dg penghamba amalnya, apalagi dg penghamba cinta manusia atau dunia. Maka pd tiap2 orang akan merasakan sendiri atas apa yg terjadi dr nuansa bathinnya, yaitu; segala gejolak rasa dalam pandangan arah fikirnya, adakalanya sadar akan arah bathin dan fikirnya itu, dan adakalanya bahkan tdk sadar akan arah bathin dan fikirnya itu. sehingga bila dinyatakan bhw; ia adalh penghamba amal atau cinta atau dunia, “mungkin” tdk akan mengakuinya, bahkan akan merasa tersinggung dan marah, krn ia merasa sbg hamba Allah yg patuh ta’at menyembah-Nya. Dan ada pula yg membuka hati, setelah ditafakkuri dan bermusyawarah (dg Syeknya), barulah ia sadar akan kebengkokan bathin dan fikirannya itu, bhw ternyata selama ini ia salah dan bertaubat lalu berbenah diri. Maka demikianlah Allah menunjukan jalan bathin yg lurus kpd siapa yg dikehendakiNya dg rahmatNya, dan membiarkan mereka yg bengkok krn kezalimannya sehingga semakin gelap hatinya tdk menemukan jalan cahaya Allah yg lurus di hatinya, dan orang seperti ini tetap saja ia merasa benar dan lurus hanya karena berpatokan kpd dalil2 hujjah yg diajukannya utk dirinya sendiri atau orang lain, yg pdhal menafsirkannya hanya dg aqal fikiran dg liputan egois diri dan hawa nafsu, dan tdklah dalil hujahnya itu menyerap pd nuansa bathinnya, maka segala hak Allah dan kuasaNya ditafsirkan dg angan2 dan gambaran jahir pd nuansa basyariyyah kemanusiaan saja, sehingga tdk menembus bathinnya itu kpd arah kemutlaqan jaiz-Nya dalam lautan wawasan rabbaniyyah ilahiyyah (ketuhanan-Nya).

(Qs 100; 6-11).

KAJIAN 36
Pada langkah2 tertentu ada orang2 yg berhenti menyembah Allah (red;beribadat), dg alasan kejenuhan atau malas atau lainnya. Padahal ia berputus asa krn merasa kecewa dg keadaan hidupnya yg sulit dan jemu, atau lainnya. Bhw; yg sesungguhnya adalah; orang2 sep; ini tdklah ia mempunyai keyakinan akan Tuhannya, (Allah), dg segala keagungan dan kuasaNya atas tiap2 hambaNya. Yg juga bhw; dahulu ketika ia msh beribadat, tdklah ia menyebah Allah dg keimanannya, akan tetapi mengikuti alur kehidupan (adat) saja, dan adakalanya dlm ibadatnya itu mencari keuntungan dunia pd kehidupannya, yg terjadi pd lintasan fikirnya dlm ahwal bathinnya adalah; “mana tahu dg beribadat kehidupanku meningkat” dan berbagai fikiran lain bg keuntungannya sendiri. Maka orang2 sep; ini adalah orang2 yg sempit aqalnya dan tipis keimanannya, dan bahkan ia tdk sama sekali mengenal Tuhannya (Allah). Sehingga kuasa Allah dibawanya dlm angan2nya utk mengikuti kehendaknya pribadi dr gejolak nafsu yg samar dan bahkan yg nyata. Tiadalah bg mereka itu rahmat Allah, melainkan terombang ambing dlm kebimbangan hidup, dan gelap akan rumah kemabalinya (akherat). Mereka adalah orang2 yg lalai kpd Allah dan bahkan lupa kpd-Nya dg segala bentuk penyesalan yg tiada akhir. Naudzubillah.

(Qs 75; 1-15).

KAJIAN 37
Pada taubatnya seorang hamba Allah yg lurus, terdapat kekuatan “rasa penyesalan yg dalam”, yaitu yg biasa disebut; “Annadam”, maka annadam ini adlh sbgi ruh bg taubatnya manusia kpd Allah. Sehingga dapatlah dikatakan, tiadalah taubat itu, melainkan dg sgl rasa penyesalan yg mendalam dan sangat kuatnya, sehingga si hamba menjauhi dg sejauh2nya dan dg rasa hawatir yg
sangat kuat krn sangat takutnya andai ia kembali lg berbuat dosa dan kesalahan. Andaikan dosa dan kesalahan itu di barat, maka ia akan lari ke timur, demikian sebaliknya, akan tetapi semua ini tidaklah cukup utknya, melainkan ia hrs terus meminta pertolongan Allah akan taubatnya itu, dan tdklah cukup ucapan istighfar walaupun di ucapkan dg beribu kali setiap harinya, akan tetapi suatu tekad/azam atas taubatnya itu lbh utama yg dpt diharapkan utk merubah semua keadaan masa lalunya yg buruk, utk kembali kpd-Nya dg segala amal keshalehan. Krn hakekat taubat itu adalah kembali kpd Allah dr berpalingnya hati kpd yg lain selain Allah. Sungguh2 krn hati berpaling,.. maka berpalinglah perbuatan jahir, yaitu lari dr hukum syareatnya yaitu; melanggar hak-Nya dg maksiat dan kezaliman. Naudzubillah. Dan rahmat Allah bg hati orang2 yg bertaubat dg kesungguhan, bagaikan hujan yg baik, menyuburkan tanah kering tandus, sehingga drnya tumbuhlah pohon2 yg baik dan bermanfa’at, yaitu; bagaikan amal keshalehan yg diterima oleh-Nya. AAmiiin.

(Qs 45; 5-7).

KAJIAN 38
Rasa manusia bergantung dr apa yg dituju pd arah hidupnya, terjadinya gejolak hawa nafsu pd suatu ahwal bathin atas suatu kemauannya, adalh tanda fitrah basyariyyah (kemanusiaan), akan tetapi gejolak rasa kemauan itu hrs terarah pd jalan bathin yg lurus pd Hak Allah, yaitu bhw; manusia hrs menjadi tokoh pengendali nafsunya sendiri yg di arahkan kpd suatu jalan suci dr berbagi jalan yg Allah karuniakan, bhw; hidup adalah suatu perjuangan dr rasa kemauan yg hrs terus menerus di usahakan dg sungguh2 (mujahadah). Sehingga dptlah dikatakan bhw; tergambarnya segala bentuk kehidupan pd rasa kemauan seseorang, adalah suatu gambaran dr gambaran kehidupan akheratnya nanti, bila tergambar olehnya pd arah yg baik dlm keridhoan Allah pd nuansa hidupnya, yaitu menetap di jalan yg lurus pd nuansa i’tiqod bathinya, maka
akan baiklah gambaran bathinnya pd kampung akheratnya. Dan bila buruk gambaran nuansa bathinnya (i’tiqodnya), maka buruklah gambaran rasa bthinnya pd kampung akheratnya. Hal ini dikatakan; bhw orang2 yg baik i’tiqod bathinnya, yaitu; mereka yg mempunyai nuansa pandang  pd perjuangan yg baik (terarah kpd Allah) atas segala gerak (aktivitas) hidupnya, adalah mereka itu golongan orang2 yg ditamsilkan Allah sbg orang2 yg “meihat”. Dan bg mereka yg buruk pd nuansa pandang kehidupannya, mereka itu tersesat, krn tidak menemukan jln pd nu nuansa bathin bg perjuangan yg terarah kpd Allah, dan mereka tdk akan pernah kembali kpd jln yg benar. Maka bg mereka itu dikatakan sbg orang2 yg “buta” bknlah buta matanya, akan tetapi buta mata hatinya, mereka tuli bisu dan tdk dpt memahami arti kehidupan yg di kehendaki Allah, krn mereka itu tdk dpt membaca atau tdk mengerti sgl ayat2 Allah dr kehidupannya(ayat2 yg tersirat), dan hanya rahmat karunia Allah lah yg dpt menujukan jalan dan membukakan mata hati atas orang2 yg bnr2 mempunyai rasa kemauan utk mencari jalan-Nya dlm keridhoan-Nya. Dan mereka adalah orang2 yg beruntung.

(Qs 17; 72. 2; 18. 2; 171. Qs 22; 46. 2; 5).

KAJIAN 39
Talah menjadi ketetapan Allah, bhw manusia mempunyai jalan hidup dan kehidupan yg berbeda2 bahkan demikian bg urusan rizki, dan tiap2 diri di wajibkan utk berikhtiar mencari jalan hidupnya sendiri (usaha/kasab). hal ini sbg suatu rahmat dr sisi-Nya agar manusia berjuang atas hidupnya itu sehingga terlihat dan ternilai oleh-Nya, siapa diantara mereka yg benar2 menempuhnya dg rasa kesadaran sbg amanah dr-Nya, dan tiadalah semua ini melainkan utk
mengangkat derajat manusia itu sendiri di sisi-Nya, dan Allah hendak memperlihatkan kpd makhluk lainnya, bhw; manusia diciptakannya sbg makhluk yg paling mulia dr pd makhluk lain, sbb segala ikhtiar manusia terjadi dg segenap kekuatan daya upaya dan aqalnya, bahkan dg keyakinan dan keimanan. sdngkan pd malaikat sj tdk terjadi pd mereka suatu gerak ikhtiar,
mereka hanya menjalankan apa2 yg diperintahkan Allah kpd-Nya. Dan adapun bg bangsa jin, mereka itu pun terkena khitob sep; manusia, yaitu; perintah beribadah dg tata cara (syareat) yg sama yg telah ditetapkan-Nya atas kerasulan Nabi Muhammad saw. Maka segala amanah yg Allah bebankan atas peribadatan dan ikhtiar kehidupan, pd hakekatnya bukanlah suatu keadaan
yg menyusahkan, akan tetapi supaya terjadi kesempurnaan sifat basyariyyah (manusia) atas fitrah penciptaannya, begitu jg suatu keadaan sifat manusia diantaranya, sep; sakit, lemah, kekurangan, lapar haus, sedih, gembira, menikah (berumah tangga), dll. Sehingga dalam setiap langkah hidup manusia itu penuh dg berbagai perjuangan yg tiada habis2nya sampai matinya, maka inilah suatu keadaan yg dpt menjadikan manusia mempunyai derajat yg berbeda dg makhluk lainnya, yaitu; manusia yg beriman kpd Allah dan ada pd mereka itu istiqomah dlm keimanannya, dan mereka menjalankan segala perjuangan atas hidup dan kehidupannya dg kesadaran sbg amanah dr-Nya, dan mereka menguatkan diri dg segala yg halal dan diridhoi-Nya, dan mereka itu menyebarkan rahmat Allah dg kasih dan sayang-Nya kpd manusia lainnya, atau mereka menjaga batas ketegasan atas apa2 yg dilarang-Nya (diharamkan-Nya), baik bg dirinya atau manusia lainnya, mereka adalah orang2 yg memerangi iblis/setan dan tentaranya, dan mereka jg bersungguh2 (mujahadah) menaklukan hawa nafsunya utk ta’at lurus kpd Allah, dan tiadalah mereka menempuhnya sendiri atas semua itu melainkan mengikuti bimbingan syekh atau gurunya yg mursyid pd jalan Allah, yg mengetahui seluk beluk jahir (syareat) dan mengetahui seluk beluk bathin (hakekat), dan mereka semua berbekal kekuatan harta ataupun hanya dirinya sj bg perjuangan semua itu, dan adalah mereka itu orang2 yg sangat yakin kpd Allah dlm do’a mereka, dan tiadalah mereka itu berkeluh kesah, melainkan ikhlas dan penuh dg kegembiraan dlm menyambut hari2 dlm hidupnya, dan hati mereka diliputi ketawadhuan dan ketadaruan, sehingga mereka selalu tentram dan bahagia. maka inilah sekilas gambaran insan kamil; kesempurnaan yg dikehendaki Allah atas manusia yg dibanggakan Allah atas makhluk lainnya. Dan adapun manusia yg jalan hidupnya tidak pada ini,  adalah mereka itu tergolong orang2 yg
merugi dan tiadalah bg mereka itu kebahagiaan dunia dan akherat. dan hanyalah dua jalan bg manusia atas apa yg diperjuangkan dlm hidupnya atas ketetapan-Nya. Jalan yg lurus kpd-Nya atau berbalik menyimpang dr-Nya.

(Qs 7;10. 51; 56. 14; 51. 90; 1-10).

KAJIAN 40
Terangkatnya derajat seseorang hamba di sisi Allah pd suatu maqom kemuliaan itu, terjadi dr karunia-Nya semata dr segala pengetahuan dan ilmu yg diberikan-Nya kpd si hamba, akan tetapi Allah memperjalankan hambanya itu terdahulu dg menariknya kpd jalan-Nya(pengabdian/peribadatan) dg berbagai ujian derita atau ujian kesenangan dg kadar yg ditentukan-Nya (beban berat dan ringannya dr suatu ujian), kemudian Dia membukakan segala “pemahaman bathin” (pd hak agama-Nya), sep; digambarkan rasul saw; “man yuridillahi bihi khoiron yufaqqihu fiddiin” (barang siapa dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka di berikanNya faham kpd agama-Nya), dengan ini si hamba akan mengetahui berbagai wawasan pandang dr segala jalan kebaikan akherat dan cinta kpd-Nya, maka perjalanan ini dilanjutkan -Nya dg membukakan segala ahwal bathin si hamba yg di sebut “futuhul a’rifin”; yaitu; terbukanya khasaf bathin si hamba akan segala hal ihwal keghaiban dr sisi-Nya,(orang mukmin wajib percaya kpd keghaiban) yaitu; akan melihat si hamba berbagai rahasia kehidupan manusia (makhluk), dan berbagai rahasia dr kehendak-Nya atas seseorang (makhluk), yaitu; dg izin-Nya si hamba akan melihat (pd ahwal bathin) hal ihwal yg lampau atau yg akan datang dr suatu bentuk kehidupan dg segala yg sudah dan akan terjadi. Dan Dia memperlihat kan kpd si hamba suatu ketetapan (kodho) atas seseorang (makhluk) dr ketetapan-Nya pd lauhul mahfudz-Nya (suratan takdir), dan Dia juga memberi kan kuasa kpd si hamba utk merubah apa yg tertulis dr-Nya atas suatu ketetapan-Nya, yaitu; dg mengabulkan do’a si hamba, sehingga burabahlah kodho (ketetapan) sebelum terjadinya takdir atas seseorang atau sesuatu. sep; yg digamarkan rasul saw; “laa yaruddul qodhoo illaddu’aa” (tidak ada yg bisa merubah ketetapan atau kodho Allah kecuali do’a). Semua keadaan ini dikehendaki-Nya agar si hamba dapat penyaksian atas kuasa-Nya pd sekalian makhluk-Nya, atau penyaksian kpd-Nya atas sekalian makhluk. Hal ini disebut “syuhud” sep; dikatakan pd kaidah tasawuf ; “Syuhudul wahdah fil katsroh” atau “Syuhudul katsroh fil wahdah” (menyaksikan Allah yg esa pd sekalian ciptaannya), dan atau (menyaksikan segala ciptaanNya sehingga melihat Dia yg esa). Maka si hamba melihat kefanaan makhluk dan kebaqoan-Nya, dan menetaplah si hamba pd-Nya atas kehendakNya. Inilah yg di katakan perjalanan seorang hamba kpdnya atas kehendakNya, yaitu; orang2 yg ditarik kpd-Nya dg izin dan kehendak-Nya, atau si hamba disebut juga sbg “al warid”, yaitu: “orang yg di kehendaki”. Adalah penempuhan mereka itu lillahi ta’ala; dpt di gambarkan bg ahwalbathinnya: “ilalloh: kpd Allah”,-“billah; dg Allah”,-“ma’alloh; beserta Allah”,- “fillah; pd Allah”. Semua hal ini adalah dlm rangka bhw; Allah mendidik hawa nafsu si hamba dg berbagai keadaan lahir dan bathin agar si hamba disucikan-Nya, yaitu; pd penempuhan tujuh tingkatan nafsu, yaitu; amaroh, lawamah, malhamah, muthma’innah, rodhiyah, mardiyyah, kamilah. Dan pd keadaanya sihamba menetap dlm fase hukum kehendak Allah dr ketetapan-Nya yg di turunkan pd rasul-Nya, dlm suatu ketetapan dan sebutan ilmu, yaitu; Syareat-tharekat-hakekat-makrifat. inilah karunia besar bg si hamba yg tdk dpt dicapai oleh amalnya sendiri. Dan tiadalah seorangpun dpt mengikuti jalannya. Sbb bg para al warid itu sendiri, adalah mereka mmpunyai jalan yg berbeda2 dr kehendak-Nya. Maka tdk lah mungkin utk diikuti oleh yg lainnya.

Dan semua keadaan ini berbeda dg mereka yg menempuh jalan melalui suatu mujahadah atas usahanya sendiri, yaitu; mereka yg bertharekat atau yg mencari jalan-Nya dg bimbingan syekhnya, dimana sampai pd fase tertentu dlm istiqomahnya, maka Allah akan menolongnya dan menunjukan jalan-Nya kemudian membimbingnya kpd-Nya. Dan bg mereka tidaklah disebut al-warid melainkan “AthTholibu fil mathlubi” (para pencari Tuhan) atau disebut jg sbg “salik” yg menempuh suluknya. Maka bila di gambarkan; bhw al warid itu di mulai dr kehendak Allah pd sisi-Nya , sdngkan salik dimulai dr dirinya. maka walaupun salik dimulai dr dirinya sendiri, akan tetapi Allah juga yg memberikan taufiq hidayahNya, hanya saja bersifat a’miyyah (umumnya), sedangkan bg alwarid, adalah bersifat khusus (Khosiyyah) bg hamba tertentu yg dipilih-Nya, dan ketahuilah bhw; bg maqom (kedudukan) al warid itu tiadalah dpt di usahakan dan di tempuh dg suatu amal apapun, bhw; kedudukan al warid semata2 adalah hak dan karuniaNya sbg Tuhan seru sekalian alam. “man lam yazuk lam ya’rif” (barang siapa belum merasakan, belum tahu). Wallohu a’ lam bishawwaab.

(Qs 17;1. 58; 11. 2;214. 6;42. 33;11-13. 2;3. 66;3. 80;1-5).

ANDA INGIN TAMBAHAN ARTIKEL ???,

Kunjungi / klik ;  KAJIAN MAKRIFAT, spiritual & penyembuhan  

Klik ;  CAHAYA ILAHI dalam TAFAKKUR TASAWUF